ISLAM

Ospek Dalam Tinjaun Islam – Sebuah Refleksi

Prosesi penyambutan mahasiswa baru tinggal menunggu waktu. Sebentar lagi, kampus-kampus akan diwarnai oleh aksi brutal mahasiswa lama kepada adik-adik mereka. Suara cacian dan makian berbaur menjadi satu, sebagai saksi atas kedzaliman sebagian manusia atas manusia yang lain. Jika anda adalah bagian dari prosesi ini, maka kutuliskan risalah ini sebagai nasehat. Bacalah dengan hati yang terbuka dan jauh dari hawa nafsu. Allah Ta’ala berfirman (yang terjemahannya):
‘”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman ,untuk tunduk hati mereka mengingat ALLAH dan pada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) “(Al Hadid : 16 )

Apapun labelnya, tak ada yang memungkiri bahwa prosesi penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus di seluruh Indonesia, pada umumnya penuh dengan berbagai pelanggaran syari’at Islam.  Sebagian manusia merampas kemerdekaan manusia yang lain. Kemerdekaan yang besar berupa kemerdekaan (bebas) dari bermaksiat kepada Allah Ta’ala telah dirampas dengan kejam. Telah muncul manusia-manusia baru yang menyeru agar mereka ditaati dalam bermaksiat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Apakah ini bukan suatu kedzaliman  yang besar ??
Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya):

“Tidak ada ketaatan pada kemaksiatan, ketaatan itu hanyalah pada hal-hal yang ma’ruf.” (Hadits Riwayat Imam Bukhari no.6830 dan Imam Muslim no.1840 dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu).

Beberapa diantara kemaksiatan tersebut adalah:

Membungkukkan diri di hadapan manusia

Sesungguhnya perkara membungkukkan diri di hadapan manusia adalah bathil. Allah Ta�¿½�¬�¢ala telah berfirman (yang terjemahannya):

“ Hai orang-orang yang beriman, rukulah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan �” (Al Hajj : 77 )

“ Dan kepada ALLAH sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.�”(An Nahl : 49 )

Wahai, yang menyuruh manusia agar didatangi dengan ruku (membungkuk) sambil berjalan. Apakah engkau ingin diperlakukan layaknya Allah Tabaraka wa Ta’ala ? Apakah engkau ingin disejajarkan dengan Yang Maha Menguasai hidup dan matimu ?

Bersikap Ta’dzim di depan simbol – simbol fakultas

Pada awalnya simbol, lambang ataupun bendera dibuat untuk menunjukkan identitas suatu kelompok. Namun, hari ini mereka telah menjadikan simbol-simbol tersebut sebagai sesuatu yang amat sakral. Bendera dan simbol fakultas, telah disikapi dengan sesuatu yang benar-benar di luar nalar yang sehat. Dengan begitu tenangnya, kepala mereka tertunduk hormat tatkala berdiri di hadapan benderanya atau ketika lagu kebanggaannya dilantunkan. Dan apakah mereka juga menundukkan kepalanya untuk berpikir tatkala mendengar ayat-ayat Al-Quraan dibacakan ? Padahal Allah Ta’ala telah berfirman (yang terjemahannya):

“Dan apabila dibacakan Al-Quraan, maka dengarlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.�”(Al-A’raaf : 204)

Dan sikap ta’dzim di hadapan bendera ini telah melahirkan sikap fanatisme yang cukup kuat terhadap fakultasnya. Sehingga tidaklah ia mendengar manusia merendahkan fakultasnya kecuali ia akan tampil sebagai pembela. Namun, ketika kaum kafirin mencela Allah, Rasul dan dien-Nya, akankah mereka tampil ke depan sebagai pembela ?

Menghalangi manusia dari beribadah kepada Allah Ta’ala

Tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas mahasiswa baru yang ikut dalam prosesi ini di negeri ini adalah kaum muslimin. Maka pernahkah terlintas di benak mereka, adik-adik mereka terhalang untuk menunaikan shalat atau menjadi tertunda shalatnya hanya karena ulah mereka. Belumkah mereka mendengar firman Allah Tabaraka wa Ta’ala (yang terjemahannya) :

“Allah berfirman : ” Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat �”(Qaaf : 24-26)

Pengikisan adab-adab pergaulan antara pria dengan wanita

Sebenarnya bencana ini telah merebak di mana-mana. Sekat-sekat pergaulan pria dengan wanita telah retak. Dan masyarakat kampus yang notabene adalah kaum  terpelajar, ternyata turut memberikan andil bagi semakin hancurnya sekat-sekat tersebut. Betapa tidak, Mahasiswa baru harus memulai pekan pertamanya di kampus dengan dipaksa untuk berbicara tak senonoh di hadapan lawan jenisnya, atau makan bersama dengan lawan jenisnya. Sungguh, ini adalah keberhasilan besar bagi iblis dalam memperdaya Bani Adam. Dan tidaklah yang memaksakan lahirnya perbuatan ini, kecuali mereka yang jahil terhadap dien-Nya. Mereka yang belum pernah mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (yang terjemahannya):

“Sungguh ditusuknya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.�” (Riwayat Ath Thabrani dalam Shahihul-Jami, hadits no.4921)

Mendzalimi Sesama Muslim

Perkara mendzalimi manusia adalah perkara yang dianggap lumrah dalam prosesi ini. Padahal di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala, perkara ini adalah perkara yang besar. Sebagaimana tergambar dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (yang terjemahannya):

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

“Menganiaya itu adalah suatu kegelapan dari beberapa kegelapan di hari kiamat�”. (Hadits disepakati Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Dari Abu Salamah Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

“Maka siapa yang memberi kesusahan kepada orang Islam, maka Allah akan menyusahkan dia, dan barangsiapa yang memberi masaqat (kesulitan) kepada orang Islam, maka Allah akan memberi kesulitan padanya�”. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Tirmidzi. Imam Tirmidzi menyatakan hasannya hadits ini).

Dari Abu Dzarr Radhiallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang firman Allah yang berbunyi dalam (hadits Qudsi) riwayatnya :

“Allah berfirman : “Hai hamba-Ku ! Aku telah mengharamkan berbuat aniaya pada-Ku, dan kuharamkan pula perbuatan aniaya itu terhadap sesamamu. Maka janganlah kamu saling menganiaya�”. (Dikeluarkan oleh Imam Muslim)

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Al-Jawaab Al-Kaafy Liman Sa’ala anid-Dawaa Asy-Syaafy (Ad-Daa’ wad-Dawaa“ menyebutkan bahwa kezhaliman ini termasuk diantara dosa yang paling besar di sisi Allah Ta’ala yang derajatnya tergantung pada bobot kerusakannya. Maka bagaimanakah kira-kira derajat dosa yang diperoleh oleh para pelaku kedzaliman dalam prosesi ini ? Mereka mencaci, menendang dan memukul adik-adik mereka tanpa sebuah alasan pun ! Tanpa perasaan bersalah dan menyesal !? Tamparan mereka membekas dengan hebat di wajah-wajah kaum Muslimin dari kalangan adik-adik mereka. Padahal, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Shahabat Jabir Radhiyallahu Anhu (yang terjemahannya):

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang memukul muka dan menandai sesuatu di muka”

Maka apakah yang mereka inginkan dari prosesi ini ? Dan apakah yang mereka dapatkan selain dari dosa, laknat dan kebencian manusia ?

Wahai para pelaku kedzaliman! Takutlah kepada Allah, Rabb pemilik semesta alam. Dialah yang memiliki hari-harimu, Dialah yang senantiasa melihat dan mengetahui keadaanmu, dan Dialah yang akan menghisab dan mengadilimu di hari kiamat kelak. Ingatlah tatkala, semua makhluk dikumpulkan di padang yang datar nan luas lagi putih. Pada saat itulah, amal perbuatan manusia akan ditanyakan. Satu persatu manusia akan bersendiri dengan Rabbnya, antara dia dengan Allah tidak ada penerjemah. Maka beruntunglah mereka yang setelah Allah sebutkan dosa-dosanya, maka Allah ampuni kemudian Allah tutupi. Dan kecelakaanlah pada saat itu bagi mereka yang Allah katakan kepadanya, bukankah begini, bukankah begitu……. Allah telah mendebatnya, dan siapakah yang bisa mengelak dari perkataan-Nya.

Ketahuilah, wahai yang menyeru untuk di ta’ati dalam bermaksiat kepada Allah. Kematian pasti dan sungguh-sungguh pasti akan mendatangimu. Kematian akan datang kepadamu dengan tiba-tiba. Apakah nanti ketika saat itu tiba, barulah kedzalimanmu terhenti dengan terpaksa ? barulah engkau sadar bahwa selama ini engkau telah menyia-nyiakan nikmat dan karunia Allah Tabaraka wa Ta’ala ? Kemudian setelah itu engkau tidak akan dibiarkan, engkau akan dibalas dengan pembalasan yang besar !! Kobaran Neraka telah menuggumu, raungan neraka telah memanggilmu, sehingga engkaupun berharap di dalam kuburmu, agar hari kiamat tidak segera datang !

Maka jika engkau dalam keadaan yakin akan hal itu, apakah yang menghalangimu untuk bertaubat saat ini juga ? apakah yang membuatmu tetap meneruskan kedzaliman dan kedurhakaanmu kepada Allah pemilik kehidupan dan kematian ? Jangan-jangan hatimu telah mati, jangan-jangan engkau termasuk yang berputus asa dari Rahmat-Nya. Maka ketahui pulalah, bahwa Dia telah berfirman (yang terjemahannya):

“Katakanlah : “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah pada-Nya.” (Az-Zumar : 53-54)

Dan ingatlah kisah taubatnya pembunuh seratus orang, yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya) :

“Di jaman orang-orang sebelum kamu ada seorang laki-laki yang pernah membunuh 99 orang, kemudian dia bertanya tentang orang yang paling alim di dunia. Maka ditunjukkanlah kepadanya seorang rahib (pendeta), kemudian ia mendatanginya dan berkata, bahwa dia telah membunuh 99 orang, maka masihkah ada kesempatan baginya untuk bertaubat ? Rahib tersebut menjawab : “Tidak” Kemudian dibunuhlah pendeta tersebut sehingga genaplah seratus orang yang dibunuhnya. Kemudian dia bertanya tentang orang yang paling alim di dunia, maka ditunjukkanlah kepadanya seorang alim. Diapun bertanya, bahwa dia telah membunuh seratus nyawa, masihkah ada kesempatan taubat baginya ? Orang alim tersebut menjawab, �¿½�¬�“Ya, siapakah yang dapat menghalangi seseorang untuk bertaubat ? Berangkatlah ke negeri sana karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kepada Allah bersama mereka, dan janganlah kembali ke kampungmu karena itu adalah kampung yang buruk.”
Maka berangkatlah ia, ketika dia sampai separuh perjalanan, maut menjemputnya. Maka bertengkarlah malaikat rahmat dan malaikat adzab. Berkatalah malaikat rahmat: �“Dia datang untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala dengan hati yang tulus. Berkatalah malaikat adzab : “Dia belum pernah melakukan kebaikan sedikitpun.�” Kemudian datanglah malaikat dalam bentuk manusia sebagai hakim antara keduanya. Dia berkata : “Ukurlah jarak antara kedua tempat itu, mana yang lebih dekat itulah yang menjadi bagiannya.�¿½�¬�¿½ Merekapun akhirnya mengukur jarak antara dua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa tempat yang dituju lebih dekat, maka malaikat rahmat membawanya.�¿½�¬�¿½ (Muttafaq �¿½�¬�¿½Alaih)

Bahkan urusannya lebih dari itu, perhatikanlah firman Allah Ta�¿½�¬�¢ala (yang terjemahannya) :

�¿½�¬�“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya. Yakni akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka itu akan diganti kejahatannya oleh Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqaan : 68-70)

Dan ayat yang berbunyi : “Mereka itu akan diganti kejahatannya oleh Allah dengan kebajikan, menegaskan bagi anda tentang karunia Allah yang agung.

Nah, sekarang setelah semuanya jelas. Mengapa hati itu masih belum berpaling dari kegelapan menuju cahaya yang terang ? Apakah perkataan Allah Tabaraka wa Ta�¿½�¬�¢ala dalam Al-Quraan dan sabda Rasul-Nya hanyalah omong kosong belaka ? Apakah janji-janji surga dan ancaman neraka hanyalah bualan mimpi belaka ? Apakah akhirat hanya sekedar fatamorgana yang menipu ? Apakah kehidupan setelah kematian tidak lebih dari dongeng-dongeng pengantar tidur ?

Jika jawabanmu adalah : “Ya  maka boleh jadi, pada saat ini, binatangpun masih lebih baik dari pada dirimu. Akhirnya, hanya kepada Allah-lah diserahkan urusan, dan hidayah itu adalah milik-Nya.

Rujukan:

  1. Taubat, Jalan Pintas Menebus Dosa. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid. At-Tibyan, 2001.
  2. Dosa-Dosa yang Dianggap Biasa. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid. Darul Haq, 1997.
  3. Terjemah Bulughul Maram (Ibnu Hajar Al Asqalani). Drs.Moh.Machfuddin Aladip. CV.Toha Putra.
  4. 4. Rekaman Ta�¿½�¬�¢lim Al-Ushul Ats-Tsalatsah. Ustadz Khaidir

~ Sebuah Tinjauan dan Nasehat ~

Sumber Penulis : Susilo Prasetyo

Standar

2 thoughts on “Ospek Dalam Tinjaun Islam – Sebuah Refleksi

  1. memang masih banyak “bentakan” dan “perploncoan” dalam ospek, meski kadang dilabeli dalih “supaya mahasiswa baru nurut”…tapi memang sehaurnya ada cara yang “lebih baik” dari sekadar perbuatan “bentakan2” tersebut

    • ALEK berkata:

      Saya setuju dengan mas nur,karena hal tersebut sekarang sudah lebih dari hanya ingin sekedar mendidik,tetapi lebih kepada egoisme senioritas dan tentunya balas dendam terhadap apa yang mereka rasakan dahulu.makasih sudah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s